
Saya belajar banyak kemarin. Saya berkunjung ke Kampus Kul-Kul di Green School di Bali. Bangunan kampus semuanya menggunakan bambu. Baru kali ini saya melihat bangunan bambu raksasa.
Sekolah ini lebih tepat dilihat sebagai sekolah internasional yang kampusnya berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan. Ketika berbicara dengan guru-guru disana, kurikulum mereka masih tentatif. Yang menarik, mereka menyebutkan salah satu keunggulan sekolah in, mereka mengajarkan creative problem solving.
Saya dan Karen serta ditemani Made, Budi, Indro dan Putu menyusuri setiap bangunan di kampus itu. Mereka sedang membangun hall besar yang setiap tiang bambu bertuliskan nama-nama orang yang membantu terwujudnya sekolah ini.
Mereka juga memiliki performance art yang unik. Panggung berlumpur. Setiap bulan purnama, mereka mementaskan gulat lumpur khas bali, Mapatigan. Ini hasil eksplorasi Putu yang jengah dengan seni beladiri asing. Ia sendiri adalah atlet tekwondo sebelumnya.
Kampus Kul-Kul memberikan inspirasi untuk mencoba kolaborasi vibrant communication skill dan creative community workshop dengan green school.
Nah. Setelah menengggak satu butir kelapa muda kami berkunjung ke musisi kampung yang hebat, Mangku. Rumahnya di dekat Kampus Kul-Kul. Ia memainkan semua alat musik buatannya sendiri. Saya menangkap aura yang luar biasa pada rumah sederhana itu saat musik-musik itu dimainkan. Sebuah contoh kejeniusan tersembunyi yang ada di kampung-kampung kita.
Wednesday, March 4, 2009
Green Soul
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment