The strategy is in motion and must be adjusted continually to give us the best chance to win
Selama seminggu terakhir saya terlibat dalam tiga pertemuan yang membahas soal strategi. Pertama, pertemuan para mitra ICCO di Puncak. Umumnya mereka organisasi pembela hak asasi manusia di Indonesia. Kedua, pertemuan mitra GTZ Probangkit di Kalimantan Timur. Kebanyakan pemerintah di tingkat distrik yang peduli pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Dan ketiga, kawan-kawan peneliti di Pusat Penelitian Sosiak Ekonomi Kehutanan di Bogor. Mereka sedang menyusu strategi penelitian integratif untuk tema Good Forest Governance.
Ternyata tidak mudah menciptakan strategi yang jitu. Mengapa? Begini, saya menilai kita amat terlatih dalam melakukan analisis. Saya belajar dengan mereka bagaimana mereka begitu pintar membaca masalah, isu dan aktor.
Namun tibanya membicarakan strategi, saya merasa kita mulai tergopoh-gopoh. Mengapa? Karena, strategi adalah soal kreativitas. Ia menggunakan bagian otak yang lain. Tanpa kreativitas, strategi menjadi sesuatu yang generik. Bahkan jatuh sebagai aktivitas yang biasa-biasa saja.
Salah satu pelajarannya, kita tak terlatih mencipta strategi yang hidup. Strategi hanya tempelan aktivitas yang tak memberikan inspirasi. Strategi sebaiknya sederhana. Strategi mengajak kita berpetualang.
Strategi itu baru hidup bila ia menjadi milik semua orang. Caranya, buatlah tim fantasia pada organisasi Anda. Ini tim penangkap masa depan. Tim Fantasia bisa menciptakan masa depan yang dibayang-bayang dan sekaligus arah serta cara jitunya. Tim ini harus berfikir besar. Think Big. Toh dunia tak akan rugi bila kita bisa berfikir aneh-aneh. Bila strategi itu pada gilirannya hidup dalam sanubari semua orang dalam organisasi Anda. Inilah Strategic Engagement.
0 komentar:
Post a Comment