Seminggu terakhir, saya mencoba mempelajari kembali gagasan mainstreaming gender. Sebuah gagasan yang penting dan kontroversial. Sebuah gagasan yang mudah diucap dan penuh tantangan saat diimplementasikan.
"Bila kita sudah menghormati dan mengajak kaum perempuan dalam sebuah proses pembangunan, apakah otomatis urusan keseimbangan gender selesai?" Inilah pertanyaan umum.
Sebenarnyat tidak sesederhana itu (tetapi juga tidak terlalu sulit). Menghormati perempuan, sebenarnya sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Toh, semua orang pasti dilahirkan dari seorang ibu.
Jadi soal melibatkan perempuan dalam setiap kegiatan pembangunan, semua orang sudah melakukannya. Seperti pemerintah membuat kementerian urusan perempuan atau memastikan 50% peserta setiap kegiatan perempuan atau 30% anggota parlemen perempuan.
Mainstreaming Gender, menurut hemat saya, jauh melampaui niat baik dan kebudiman kita. Ini berbicara soal never ending dialogue antara lelaki dan perempuan dalam bersama-sama co-creating the future.
Dunia yang adil bukan tatanan versi lelaki melainkan dunia versi semua manusia baik lelaki maupun perempuan. Caranya, mulailah menanyakan asumsi yang berada di kepala kita berkenaan dengan persoalan kelamin sosial. Sehingga pada gilirannya, kelamin sosial yang seimbang bukan tempelan pada program melainkan teronggok manis di sistem berfikir kita.
Wednesday, April 15, 2009
Mainstreaming Gender
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment