Monday, April 20, 2009

No Motion

Saya menyempatkan berkunjung ke Baung, Amarasi kemarin. Saya ingin menengok anak-anak "asuh" yang dulu menemani saat Festival Penenun Nusantara tiga tahun lalu - Roy, Mona, Grace, Nabu, Intah.

Roy telah pindah ke Makassar dan Mona bersekolah di Kupang. Melihat mereka sebenarnya mirip nonton Laskar Pelangi. Semangat anak-anak miskin bersekolah dan bermimpi.

Kebetulan semalam sebelumnya, Intah dan Nabu menonton Laskar Pelangi bersama ibu-ibu dari kampung di Hotel Astiti, Kupang. Mereka berdua terkesan dengan film karya Riri Reza.

Grace telah kelas 5 SD dan Nabu kelas 2 SMA. Cepat sekali waktu berlalu. Mereka sudah besar. Hanya mata mereka yang selalu mengenang saya pada ketulusannya membantu saya dan tim selama di Amarasi.

Amarasi tetap tak berubah. Sebuah desa sepi. Hanya hari-hari pasarlah, banyak orang berdatangan dan berkerumun.

Saya sebenarnya berharap banyak kepada Pak Robby Koroh. Ia anak raja dan memiliki karisma yang hebat. Ia dan istrinya mempromosikan seni tenun ikat yang tetap bertumpu pada warna alam.

Ketekunannya telah membawanya ke Darwin, Australia pada Agustus lalu. Bahkan, desainer kelas dunia, Oscar Lawalata sempat berkunjung ke Amarasi -- mencari kemungkinan pengembangan corak tenun ikat Amarasi untuk produk-produk fashion.

Saya kemarin bertukar gagasan tentang creative community. Bagaimana menghidupkan kembali kebudayaan dan kesenian Amarasi sebagai aset komunitas. Ia tertarik dan saya senang.

Harapan Amarasi ada pada pundak pemuda dan pemudinya. Saya tertarik berbagi gagasan untuk bersama-sama menciptakan komunitas kreatif di Amarasi. Biar bumi Amarasi kembali bergerak dan berdaya hidup.

1 komentar:

campoes ngopi said...

buka tutup. buka tutup buka lagi.... eh belon di ada yg baru.... begitu seminggu ini liat blog ini mas ....

cerita terbaru. ide baru. pengalaman baru. info baru. energi baru.... dimanakah engkau???? hehehe.....

oleh2 dari sentarum kapan dibagi???