Saya baru pulang dari Pertemuan Masyarakat Danau Sentarum pada 29-30 April 2009 di Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sekitar 120 orang hadir dalam pertemuan tahunan. Mereka perwakilan dari 18 Kampung (ada sekitar 58 kampung di dalam Danau Sentarum).
Kali pertemuan ini dirancang berbeda. Selama empat kali pertemuan, mereka menggunakan pendekatan masalah. Isinya narasumber --dari pemerintah, taman nasional dan organisasi non pemerintah -- berbicara dan masyarakat bertanya, mengeluh, protes dan berakhir dengan sebuah kesepakatan.
Dan yang menarik, kesepakatan itu tak pernah terlaksana semua. Biasanya karena komitmen pemerintah, organisasi non pemerintah dan masyarakat tak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Dan, setiap pertemuan, masalah yang dibahas itu itu saja. Jadi tak mengherankan, bila banyak pihak merasa bosan dengan tipe pertemuan seperti itu.
Nah, kali ini, salah satu inisiator pertemuan rakyat ini, Riak Bumi, mengundang saya memperkenalkan pendekatan Appreciative Inquiry. Mereka bersetuju. Saya kemudian menawarkan dua tahapan proses.
Proses pertama, melatih 18 orang fasilitator kampung untuk tahu soal gagasan Appreciative Inquiry dan melatih mereka melakukan wawancara apresiatif. Proses kedua, pertemuan rakyat atau sering dikenal sebagai appreciative summit.
Kedelapan belas orang yang telah berlatih bertugas melakukan wawancara apresiatif kepada seluruh anggota komunitasnya. Dan memilih lima orang terbaik untuk hadir dalam pertemuan rakyat.
Setiap kampung harus presentasi kekuatan dan mimpi kampungnya. Caranya, mereka hasil presentasi dalam bentuk drama atau teater atau perfomance art. Teater menjadi alat bantu komunikasi interpersonal.
Jadi kemarin saya menyaksikan 18 presentasi unik dari setiap kampung. Wakil pemerintah dan organisasi non pemerintah kali ini berperan sebagai pengamat.
Walau tidak semua mempersiapkan diri dengan prima, saya senang dengan presentasi mereka. Sekurang-kurangnya mereka bisa belajar dari cara kampung lain mempersiapkan diri, berekspresi dan menjelaskan impiannya.
Hasil impian mereka, yang diwakili oleh 18 orang pemimpin mereka, kemudian telah dilukis menjadi mural impian. Setiap kampung memperoleh satu mural tercetak berisi mosaik impian Danau Sentarum 2014.
Baru pada hari kedua, pertemuan mengajak setiap kampung merancang strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan impiannya. Proses sederhana menggunakan bagan perubahan yang biasa dipakai dalam aplikasi Theory of Change.
Pada malam terakhir, kami melakukan malam apresiasi dengan mengundang sanggar seni setempat dan penampilan dari Teater Dapur Pontianak.
Pertemuan ini menginsipirasi saya untuk belajar bagaimana melakukan perluasan gerakan masyarakat menyelamatkan kampung dan alam di Danau Sentarum. Saat berbicara dengan Heri, selama perjalanan di atas kapal dan bus, saya lontarkan beberapa ide ke depan. Tampaknya mereka suka dan saya bersemangat membantunya secara sukarela.
Bagi saya, mereka telah mendiskusikan hal paling penting dalam upaya mengubah kehidupan dan menjamin keselamatan rakyat di seputar Danau Sentarum.
Sunday, May 3, 2009
Sentarum
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment