Saya sedang mengutak-atik kembali gagasan Vibrant Communication. Seperti kata "gender" yang sering kepleset diterjemahkan sebagai perempuan. Vibrant pun sering ditafsirkan hanya sekedar "fun" dan "heboh". Sebagai sebuah upaya sengaja menciptakan relasi antar manusia yang segar, boleh jadi memang keharusan. Nah, VIbrant tidak bisa berhenti pada konsep "heboh".
Tantangan gagasan vibrant adalah apa yang kemudian terjadi pasca kehebohan? Saya memperoleh personal feedback menarik dari beberapa client. Dan, saya pun tertantang mengeksplorasi the limit of vibrant communication.
Vibrant Communication = Creative People + Creative Community + Creative Action. Kreativitas adalah kunci. Kreativitas sendiri melampaui our mind. Jadi, vibrant "lama" hanya memberikan "warming up" pada proses kreativitas. Semacam, vibrant is not an answer but an opportunity. Memang masih koma, belum titik.
Untuk itu tahapan mengeksplorasi vibrant "baru", saya akan menggali gagasan Vibrant People, sebagai sebuah syarat dalam menciptakan perubahan diri atau perubahan sosial. Baru kemudian, bagaimana menggagas VIbrant Organizaton sebagai strategic device untuk perubahan-perubahan yang lebih luas. Dan, akhirnya memang bagaimana menciptakan Vibrant Action, yakni tindakan-tindakan sederhana, kreatif dan tetap fun dalam berinteraksi sosial mulai dari presentasi, meeting, training, teaching, facilitating, animating, mediating, negotiating dan sebagainya.
Itu dulu, pikiran lepas dari Palu. Oh, ya. Saya sedang melanglang ke Palu, Kupang, Alor dan Flores, menikmati kehangatan matahari nusantara kita.
Sunday, May 10, 2009
Vibrantmorphosis
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment