
Gara-gara Bukik dan kawan-kawan, saya dianugerahi Change Pratitioner oleh Universitas Airlangga bersama Chairul Tanjung, pemilik TransTV sebagai Corporate Changer dan Bambang Setiawan sebagai Leader Change dari Bank Mandiri pada 30 Mei 2009 di Hotel Majapahit, Surabaya. Saya merasa nano-nano dengan anugerah ini.
Pertama, saya berterima kasih karena apa yang saya lakukan bersama sindikat INSPIRIT INNOVATION CIRCLES pada akhirnya dilihat, diperhatikan dan dihargai. Kedua, saya senang dengan istilah "Change Pratitioner". Saya mendadak mengeksplorasi pikiran, asyik juga istilah satu ini. Saya akan taruh sebagai label baru untuk teman-teman yang tekun melakukan perubahan pada organisasi dan komunitas.
Pagi, sebelum menerima anugerah ajaib itu, saya tampil menjadi pembicara pertama untuk menyampai orasi pengalaman merawat perubahan organisasi sosial. Sengaja saya memberikan tekanan pada organisasi sosial karena pembicara lain membicarakan soal perubahan pada organisasi bisnis, pendidikan dan pemerintah.
Saya belajar dari peristiwa-peristiwa yang saya saksikan dan alami, saya mengambil pelajaran bahwa reality is a negotiated interpretation. Jadi organisasi pun bisa dilihat sebagai kenyataaan yang terus menerus dinegosiasikan. Intinya, organisasi bisa dilihat dan dirasakan suka-suka siapa yang akan menafsirkan struktur, proses dan sistemnya.
Saya menyampaikan sekurang-kurangnya prasyarat perubahan berawal dari adanya creative people. Saya menyebutkannya carilah pemimpin yang inspiratif. Pemimpin yang memiliki intuisi dan semangat menangkap masa depan. Tanpa pemimpin yang passionate, organisasi hanya akan melakukan ritual organisasi secara berulang. Kesalahannya pun bisa ditebak itu itu saja.
Untuk itu, lebih penting memilih siapa yang akan menjadi tim impian Anda ketimbang membicarakan organisasi mau apa. Pilihlah kawan-kawan yang satu visi. Dengan orang-orang yang tepat, Anda bisa mengarungi ganasnya gelombang samudra.
Baru kemudian, menciptakan organisasi yang kreatif. Organisasi kreatif bukanlah sebuah mesin. Ia adalah organisme yang hidup. Ia memiliki otak, hati dan kaki. Bila kita memahami organisasi sebagai organisme atau living system, maka intervensi yang dilakukan amat sangat minimal, cepat dan sebisa mungkin tak menyakitkan.
Pada giliranya organisasi kreatif akan menularkan dan menciptakan apa yang saya sebut sebagai creative community. Komunitas kreatif bisa ditafsirkan menjadi pasar yang kreatif atau pun creative economy. Prasyaratnya, art and culture menjadi bagian dalam mengelola dan mencipta perubahan.
Metafora seni dan budaya membantu kita melihat etos atau spiritualitas organisasi atau komunitas. Itulah serangkaian asumsi, harapan, cara melihat dunia dan identitas yang membedakan dengan organisasi atau komunitas lainnya.
Kekuataan metafora membentuk cara kita memahami sesuatu (at the intellectual level), berkenaan dengan (the affective level) dan menghasilkan sesuatu (at interactive level) dalam organisasi atau komunitas kita. Tanpa metafora, organisasi atau komunitas sulit melekatkan diri pada upaya-upaya kreatif menjawab masa depannya.
Intinya, organisasi dan komunitas adalah produk bahasa. Language create reality. Ciptakan bahasa baru melalui percakapan. Karena, perubahan berawal dari dalam pikiran. Change starts in mind.
“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscape but in having new eyes.”- Marcel Proust
Wednesday, June 3, 2009
The Practitioner of Change
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment