Saturday, January 31, 2009

New Insight


Baru saja selesai memperkenalkan change the way you see yourself dan personal vision pada karyawan di tingkat akar rumput. Mereka adalah juru sapu, juru bersih toilet, juru parkir, juru lampu, juru taman, juru cuci piring dan sebagainya. Berbeda dengan kelas sebelumnya saya lebih mendorong mereka berlatih melakukan sesuatu. Baru kemudian, saya menjelaskan secara ringkas apa hal-hal yang bisa dipelajari dari pengalaman dan hasil karya mereka.

Saya merasa mereka tak ada persoalan dengan ketrampilan komunikasi interpersonal. Saya justru tertarik membongkar rasa fatalistiknya mereka. Mereka percaya dilahirkan sebagai tukang sapu dan seterusnya. Inilah nasib dan hidup mereka.

Saya tak ada urusan dengan peran dan fungsi. Saya ingin membongkar sedikit keyakinan-keyakinan usang seperti itu. Saya ajak mereka bermain-main dengan imajinasi. Mereka membuat papa visi sederhana. Papan visi cara gampang menangkap masa depan. Terutama bagi orang-orang yang intuisinya mati.

Pada akhir sesi memang hasilnya luar biasa. Visi mereka membuat terharu dan kagum. Ada beberapa masih bermimpi hal-hal yang biasa, dan saya yakin pasti tercapai. Sedangkan, beberapa yang lain berani menyembut masa depan yang hebat.

Pelajaran hari ini, bagaimana meyakinkan peserta untuk membuang kata-kata seperti "mungkin", "kalau bisa", "ah ini iseng" dan seterusnya. Dengan membuang kata-kata itu, harapan lebih mungkin tercapai. Lagi-lagi, hari ini saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk menikmati the art of possibility.Read more!

Hammer


Saya selalu bercanda saat masuk pos keamanan di mall-mall. Saya bilang petugas keamanan itu otaknya sudah kacau balau. Mereka harus memeriksa sesuatu yang menurut keyakinanya bom itu tak ada.

Inilah contoh paling ekstrem, bagaimana konflik antara intuisi dan akal sehat. Intuisinya menyatakan tak ada bom. Tapi, akal sehat dipaksa untuk melakukan tindakan rutin yang membosankan.

Menarik tuh kalau bisa meneliti otak para petugas keamanan yang melakukan kegiatan rutin. Lambat laun, menurut neuroscience, otak akan berubah karena ia tidak bisa membedakan lagi mana realitas dan mana intuisi atau fiksi.

Sebenarnya fenomena ini terjadi dalam proses transformasi sosial. Fenomena Obama, bagi saya, menarik saat Ia menjadi simbol nothing is impossible. Hanya saja, setelah ia menjadi presiden. Kita membutuhkan fenomena lain yang lebih ajaib. Tak bisa berhenti dengan memuja Obama. Obama lambat laut akan menjadi sejarah. Dan kita butuh energi "Obama" yang lain.Read more!

Everything is Communication


Saya percaya bila kita melihat kenyataan sebagai sistem sosial. Maka, komunikasi menjadi isu utama dalam setiap kendala yang kita hadapi. Karenanya, kita membutuhkan mindset baru dalam mencipta sistem yang memastikan komunikasi antarpersonal bisa terjadi setiap saat.Read more!

Vibrant for All


Empat hari terakhir, saya dan INSPIRIT melatih Interpersonal Communication Skills bagi seluruh karyawan IALF, sebuah lembaga pelatihan bahasa, milik Australia, di Bali. Setiap mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke benua kangguru pasti berlatih bahasa disini. Mereka punya cabang di Jakarta, Bali dan Surabaya. Selain pelatihan bahasa reguler, mereka memiliki berbagai program khusus seperti pelatihan bagi guru-guru di sekolah-sekolah islam di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Kelas dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok supporting staff, kelompok frontliner, kelompok manager dan kelompok behind the scene. Total, 64 orang. Mereka mengundang kami, karena pimpinan IALF tertarik pada metode vibrant saat diperkenalkan sebagai final session untuk pelatihan para guru sekolah-sekolah islam.

Kami sendiri tertantang karena setiap hari harus meramu training yang sesuai dengan kebutuhan kelompok khusus. Hari pertama, saya masih ragu-ragu dengan respon peserta. Karena ternyata memang ada masalah komunikasi yang melampaui urusan komunikasi interpersonal. Ini lebih soal komunikasi struktural.

Organisasi ini sedang dalam proses transisi menuju organisasi besar. Persepsi seluruh karyawan menilai organisasinya sangat rasional dan struktural. Akibatnya, komunikasi antarpersonal menjadi sangat direktif dan formal.

Penemuan ini dapat menjelaskan komunikasi interpersonal yang memburuk, bukan persoalan individual melainkan bersifat sistemik. Karena, organisasi harus secara cerdas merancang sistem relasi interpersonal dan sistem imajinasi atas organisasi.

Organisasi yang rasional, mirip sebuah mesin yang sempurna. Karena, organisasi ini tidak peduli dengan penumpangnya. Siapa saja bisa menjadi penumpang.

Bagaimana memberikan arti pada penumpang dan lingkungan. Kita bisa merancang desain bus yang keren, tempat duduk yang asyik dan lain-lain. Hal ini secara bersengaja menjadikan orang bisa otomatis berkomunikasi dengan segar di dalam organisasi.

Pada gilirannya, orang-orang pun akan sangat bangga dengan organisasinya. Mirip cerita tribes atau evangelist. Organisasi seperti ini terjadi di Apple Computer, Starbucks, Google. Organisasi telah menjelma menjadi agama.Read more!

Thursday, January 29, 2009

How to See the Future

Bagaimana pemimpin melihat masa depan? Riset psikologis dan fisika baru, melaporkan semua orang memiliki intuisi melihat masa depan. Hanya saja tidak semua orang terlatih mengaktifkan kemampuan melihat melampaui panca indera.

Menurut John Nasbitt, penulis buku Mindset (2006), pikiran kita membatasi apa yang kita bisa lihat. Pembatas inilah bernama mindset. Serangkaian keyakinan dan cara kita melihat dunia.

Karenanya, perubahan mindset akan memberikan harapan pada pikiran untuk melihat gambaran masa depan, apa yang akan terjadi, apa yang akan berkembang dan bagaimana pola perubahannya. Dengan cara sederhana, visioning, kita bisa melihat masa depan dengan cara yang lebih asyik dan seru.


Salah satu cara melihat masa depan, kita hendaknya mempertimbangkan mindset berikut ini:

Sementara banyak hal berubah, kebanyakan tetap konstan.
Masa depan terikat dengan masa sekarang
Fokus pada skor permainan
Pahami sesuatu yang berkuasa tak selamanya benar
Lihat masa depan laksana mengisi teka teki
Jangan terlalu maju sehingga orang tak tahu bila Anda ada
Resistensi pada perubahan gugur sendiri, bila manfaat perubahan nyata
Sesuatu yang terlalu diharapan, selalu lebih lamban terwujudnya
Tidak pernah ada hasil dari pemecahan masalah kecuali Anda mengeksploitasi kesempatan
Jangan pernah menambahkan sesuatu kecuali Anda menguranginya
Jangan pernah mengabaikan ekologi teknologi

Saat ini, banyak ilmuwan fisika dan psikologi yakin orang bia
sa bisa melihat masa depan. Kesebelas mindset di muka, boleh jadi cara mudah membantu orang biasa melihat masa depan.

Albert Einstein menegaskan imajinasi adalah segala-galanya. Imajinasi adalah gambaran pendahuluan dari peristiwa hidup yang akan menjadi kenyataan.

Salah satu latihan mengubah cara melihat situasi adalah visioning. Visioning adalah sebuah proses melatih diri sendiri atau kelompok mendengar, merasakan, melihat dan menangkap masa depan yang ingin diwujudkan.

Latihan visioning sudah mulai popular di berbagai bidang kegiatan sebagai sebuah cara merumuskan dan menangkap masa depan yang diinginkan. Banyak temuan ilmiah menunjukkan kita bisa meraih impian kita bila kita mampu melihatnya dan membayangkan cara merengkuhnya.

Visioning paling biasa dipakai pada olah raga loncat galah. Atlit loncat galah secara teratur berlatih membayangkan mampu loncat pada ketinggian yang belum pernah mereka loncati. Kaum awam bisa menggunakan visioning untuk menciptakan gambar masa depan dalam merancang perubahan-perubahan sosial yang diinginkan.

Pada latihan visioning sederhana, fasilitator biasanya menggunakan metode visualiasi. Caranya mudah. Fasilitator meminta peserta menutup mata dan mengatur pernafasan. Peserta diminta berjalan ke masa depan. Semisal, sepuluh tahun depan. Bayangkan para peserta berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Apa yang mereka lihat? Bagaimana bentuk rumah-rumah pada masa itu? Dimana orang-orang berkumpul? Bagaimana mereka mengambil keputusan? Apa yang mereka makan? Dimana mereka bekerja? Bagaimana mereka bepergian? Apa yang terjadi di jalanan? Bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama tetangga? Bagaimana keadaaan taman kota? Apa yang Anda lihat setelah matahari terbenam?

Fasilitator merekam bayangan para peserta dalam bentuk tulisan, gambar, diagram, sketsa, model, potong dan tempel foto atau sebuah cerita pendek. Seringkali pada proses ini, seorang ilustrator profesional diundang membantu mengubah gambar dalam benak menjadi gambar yang cantik dan komunikatif. Dan, peserta bisa meminta perubahan bila merasa tidak sesuai dengan bayangannya. Boleh juga, membuat beberapa gambar. Dan, seluruh warga bisa memilih gambar mana yang sesuai dengan keinginannya.

Pada proses visioning perlu sabar dan berani mencoba. Kebanyakan warga biasa tak terlatih melihat masa depan. Karenanya, perlu diulang beberapa kali sehingga mereka bisa mengaktifkan otak kanan dan intuisinya.

Salah satu proses visioning yang mudah dan gembira adalah menggunakan metode appreciative inquiry. Sebuah proses yang mengandalkan kekuatan seluruh elemen sistem.

Caranya, ingatlah tahapan alur 5M (Menentukan, Menemukan, Memimpikan, Merancang dan Memastikan).

Tahapan Menentukan. Fasilitator dan peserta harus menentukan topik apa yang dinilai penting.

Tahapan Menemukan. Fasilitator mengajak peserta menemukan apa saja hal yang membanggakan yang pernah dilakukan berkenaan dengan topik penting. Pengalaman-pengalaman membanggakan bersifat pribadi. Proses ini penting untuk belajar mengakui kisah-kisah sukses pada masa lalu. Paparan sebaiknya dari mulut ke mulut. Hal ini penting untuk menyebarkan energi positif kepada seluruh warga atau anggota kelompok. Proses ini bisa melibatkan banyak orang. Semakin banyak warga yang terlibat, proses ini akan kian berdampak. Pada akhir proses ini, setiap pencerita harus menemukan dan berbagai rahasia yang membuat sukses, apakah kita berupa bakat, pengetahuan, ketrampilan atau perilaku.

Tahapan Bermimpi. Fasilitator meminta peserta membayangkan impian yang ingin diwujudkan. Peserta adalah orang-orang yang telah berani mengakui kisah pribadi yang membanggakan. Pada proses ini sebaiknya memanfaatkan gambar. Semisal, peserta diminta menggambarkan apa yang ingin dilihat pada sepuluh tahun mendatang atau peserta diminta membuat mural dengan memotong gambar-gambar dari majalah bekas. Dengan cara ini peserta memiliki kesempatan melakukan visualisasi pada apa yang menjadi cita-cita bersama. Pada akhir proses, setiap peserta diminta menafsirkan dan menceritakan impian mana yang benar-benar memanggilnya.

Tahapan Merancang. Fasilitator meminta peserta memperhatikan papan impian mereka. Pilihlah impian mana yang paling menggugah. Peserta kemudian diminta membuat pernyataan yang menggugah untuk mewujudkan impiannya. Pernyataan menggugah berisi kekuatan-kekuatan yang dimiliki, impian yang ingin diwujudkan dan cara-cara yang akan dilakukan untuk mewujudkan impian serta keyakinan diri mewujudkan impian tersebut.

Tahapan Memastikan. Fasilitator meminta peserta memilih sebuah tindakan baru yang akan dilakukan untuk mulai melangkah mewujudkan impiannya. Tindakan hendaknya sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Pada tahapan ini fasilitator bisa memperkenalkan alat berupa tangga perubahan yang berisi mimpi, mantra, komunikasi, komunitas dan perubahan. Hirarki ini membatu peserta menyusun tahapan mewujudkan impian dengan cara yang paling sederhan sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya.
Read more!

Wednesday, January 28, 2009

I See Your Training!

"I see your training," kata Marcel semalam. Ia bersama Alix dan Keanu baru saja berkunjung ke Sumba bertemu dengan beberapa alumni vibran disana. Ia bisa melihat apa yang terjadi di kelas-kelas vibran dengan melihat apa yang terjadi di lapangan. Ia menyebutkan sebagai "training reaction".

Saya sempat terharu dengan pernyataan Marcel. Ia seorang sahabat yang luar biasa. Saya sempat berkunjung ke rumah mereka di Kanada. Marcel sedang mengeksplorasi energi-energi alternatif. Ia berkunjung ke desanya Pak Paulus untuk melihat bagaiman desa terpencil ini menggunakan solar panel di rumah-rumah. Desa kecil itu sekarang sudah menginstall 150 solar panel untuk menikmati lampu, radio dan televisi.

Pernyataan Marcel menyegarkan kembali semangat mengembangkan tiada henti Vibrant Communication as Social Change Tool. Dan, dua hari kemarin, berlima (Budhsi, Yenni, Greg, Nancy) mengolah sebuah tool baru untuk melakukan penakaran mandiri menuju organisasi transformatif.

Dan hari ini kami memperkenalkan vibrant communication kepada satpam IALF di Bali. Sebuah tantangan yang amat menarik hari ini.Read more!

Tuesday, January 27, 2009

FGLG Indonesia


Baru saja selesai melatih Forest Governance, Social Change and Facilitation Skills pada 23-25 Januari 2009 di Surabaya. Peserta 19 orang dari Departemen Kehutanan dan Dinas Kehutanan di Jambi, Bali dan Sulawesi Tenggara.

Saya senang dengan kelas para pegawai negeri. Mereka progresif dan inovatif. Saya pun menikmati dengan diskusi-diskusi yang berkembang. Mereka sangat antusias dengan Forest Governance Learning Group Indonesia. INSPIRIT menjadi motor kelompok belajar yan sudah berjalan lima tahun.

Kelompok ini sangat dinamik. Mereka adalah articulating leaders di lingkungan kerja mereka. Mereka harus memiliki vertical and horizontal capacity untuk bisa berkomunikasi dengan elegan kepada atas dan bawahan dan juga publik.

FGLG bermimpi memiliki 1000 changemakers from within. Saat ini sudah 100 orang terlibat dalam kegiatan FGLG. Dan, antusiasme pada trainin kali ini memberikan semangat untuk memacu gagasan FGLG bagaimana mewujudkan forest governance di Indonesia.

Hasil dari training kali ini, FGLG diundang untuk memberikan kelas khusus pada program khusus magister di IPB, kerjasama antara IPB dan Departemen Kehutanan. Saya menyambut baik gagasan ini. Dan, tentunya kesempataan untuk memperluas pengetahuan forest governance, social justice in forestry dan vibrant communication skills.

Dan FGLG Indonesia sendiri akan melakuakn visioning pada awal Maret mendatang di Bali.Read more!

Saturday, January 17, 2009

Be Creative

Saya kemarin menapis 25 proposal Komunitas Kreatif di Yayasan Kelola. Sedih. Hanya satu proposal lolos. Selebihnya, banyak proposal tak memberikan angin baru dalam membangun komunitas kreatif. Pertanyaannya, apa yang salah dengan proses seleksi ini?

Amna, Direktur Kelola, berpendapat ia baru tahu bagaimana pengetahuan kebudayaan dan seni di kalangan LSM begitu buruk. Kebudayaan dan seni memang bukan agenda penting, bagi bangsa ini.

Saya sendiri tak merasa aneh. LSM seperti juga pemerintah dan lembaga-lembaga lain memang terbelenggu oleh asumsi-asumsi yang dibuatnya sendiri. Seperti, kata "pengentasan kemiskinan". Ternyata kata ini hanya jargon dan saat membaca proposal pengusul, tak ada satu pun yang menjelaskan bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan.

Kami, tim panel, mencari inovasi-inovasi sosial yang baru dan segar. Kami tak menemukannya. Kemanakah kreativitas itu menghilang?

Saya lebih percaya kita secara berjamaah memang lebih suka belajar di loop pertama. Kita hanya senang mencopy atau downloading file-file belajar tanpa pernah mencoba menantang asumsi-asumsi di belakangnya. Kita lebih nyaman patuh pada apa yang kita yakini.

Sedangkan kreativitas, pada dasarnya adalah proses unlearning atau membongkar nilai-nilai dan pengetahuan-pengetahuan yang kita yakini selama ini. Kita harus berani menantang asumsi-asumsi yang ada di sekitar kita.

Semalam diajak gang Kelola nonton Vienna Symphonica. Saya hanya tertarik bagaimana seorang anak muda Indonesia, Rama Sidi, menjadi pemain Harpa dalam kelompok simfoni yang terkenal itu. Bagi saya, Rama hanya simbol bagaimana kita keluar dari mainstream dan keluar dari hiruk pikuk berita kampanye partai-partai politik.

Ketimbang, semisal, partai berkuasa mengumbar sukses dengan menurunkan harga premium. Sama sekali tak kreatif, lupa pada misinya sendiri. Bila pemerintah menurunkan premium menjadi Rp 2000, boleh jadi ini kreatif. Kalau menurunkan minyak karena memang harga di dunia turun senilai itu dan mengumbar menjadi kisah sukses. Waduh, ini dia kebodohan baru.

So, saya lebih mendorong bagi kelompok-kelompok pembaru berani keluar dari perangkap besar yang memang menipu dan penuh ilusi. Kita harus berani meregangkan segenap kemampuan kita untuk menemukan inovasi-inovasi sosial yang menyegarkan. Selamat belajar.Read more!

Wednesday, January 14, 2009

Tribes

Market for something to believe in is infinite!

Tribes, judul buku Seth Godin yang baru. Tribe adalah sekelompok orang yang saling berhubungan satu dan lainnya, terkoneksi dengan pemimpinnya dan lekat dengan gagasan-gagasan atau nilai-nilai yang dipercaya. Bagaimana sebenarnya membuat organisasi mirip sebuah tribe atau suku.

Mengapa penting membuat tribe? Karena, organisasi sebenarnya bukan pabrik. Saya sering menemukan bagaimana organisasi sosial didesain laksana sebuah pabrik cara berfikirnya. Kemudian, bagaimana organisasi membuat lebih produktif dan bahagia para karyawannya. Intinya, memimpin dan mengubah status quo adalah sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan. Dan, bagaimana menemukan semangat atau passion orang-orang yang belum sepenuhnya tertaut dengan tribe yang ada.

Hal ini penting sebenarnya dalam mengembangkan organisasi sosial. Mengapa orang tidak membuat tribe? Inilah yang sering disebut Factory Mentality. Semua orang ingin merasa nyaman di tempat kerja yang nyaman dan begitu setiap hari. Orang-orang di organisasi mirip crowd yang tidak memiliki momentum berubah dan tidak punya leader yang inspiratif. Kebanyakan organisasi juga macet karena mereka bermain dengan aturan-aturan masa lalu. Karenanya, manajer dan karyawan selalu menunggu apa yang harus dikerjakan.

Kemudian pemimpin seperti apa yang kita butuhkan? Pemimpin bukanlah sekawanan domba melainkan para Evangelist yang percaya pada masa depan yang dilihatnya! Dan yang paling penting sebenarnya Tribe tidak melakukan apa yang disukai pemimpin, tribe selalu melakukan apa yang mereka inginkan.

Pelajarannya, "Being charismatic doesn't make you a leader. Being a Leader makes you charismatic. It's a choice not a gift.Read more!

Tuesday, January 13, 2009

Facebook

Hari ini menikmati teknologi Facebook. Saya jumpa sahabat-sahabat sewaktu kuliah di IPB. Saya baru hari ini mencari teman-teman kuliah. Karena, Bogor hujan sejak dini hari dan lalu mood menulis belum juga aktif, saya curi waktu memanfaatkan facebook.

Dan akhirnya saya bisa bertemu Safarina Golfiani, Ellyna Chairani, Cattleya Pandu dan Fitri Nursanti. Mereka kawan-kawan bermain ketimbang kawan-kawan belajar. Mereka hebat-hebat menempuh karirnya sesuai dengan apa yang dipelajari.

Dengan bertemu empat kawan lama, saya bisa mulai menyusuri kawan-kaan lain seperti Lexy, Agus Catur dan lain-lain. Dan sore hari, saya menemukan jejak kawan-kawan SMA Negeri 1 Bandung seperti Semmy dan Gani. Begitulah efek facebook bagiku hari ini.

Untuk Mac Users, software iLife '09 sudah memberikan pengakuan pada teknologi Facebook dan Flickr dengan memberikan toolbar khusus. Keduanya adalah inovasi dalam internet social network. Sama seperti Bill Gates, Microsoft bukan pabrik komputer melainkan pabrik software.

Bahkan iPhoto '09 sudah memanfaatkan teknologi face recognition yang bisa memilah foto berdasarkan muka orang. Teknologi ini kompatibel dengan Facebook. Lantas, bagaimana kita memanfaatkan teknologi canggih ini untuk mengembangkan kebudayaan yang lebih hidup?Read more!

Imogen Heap

Well baby I've been here before
I've seen this room and I've walked this floor
I used to live alone before I knew ya
I've seen your flag on the marble arch
Love is not a victory march
It's a cold and it's a broken Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah

Well there was a time when you let me know
What's really going on below
But now you never show that to me do you?
And remember when I moved in you?
And the holy dove was moving too
And every breath we drew was Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah


Lagi suka Imogen Heap. Lagi bosen dengan isi iPod dan koleksi musik sendiri. Kemarin terhibur dengan Kamar Gelapnya Efek Rumah Kaca. Saya suka nada-nada kreatif. Sebuah nada yang keluar dari irama mainstream. Imogen Heap memberikan saya pengalaman baru menikmati musik. Vibrant pun selalu ingin keluar dari mainstream.

Budhsi dan Saya sedang meramu sebuah konsep training baru. Kami mengundang beberapa aktor, koreografer dan musisi dari Filipina pada Vibrant Communication 15 pada 17-20 Februari 2009 di Bali. Kami akan berkolaborasi dengan Teater Down South (Filipina) dan Teater Garasi (Yogyakarta). Dan, pada kesempatan training istimewa ini, inspirator kami, Karen Edwards berkenan hadir dari Malawi dan akan memberikan refleksinya tentang dunia fasilitasi kontemporer.

Ini transisi menjadikan training kami sebagai kelas internasional. Kali ini beberapa peserta datang dari Timor Leste. Dan kolaborasi kali akan memberikan banyak possibility dalam mengembangkan vibrant communication versi 4.0.Read more!

Monday, January 5, 2009

The Year of Possibility

2009. Sebuah angka baru. Sebuah harapan baru. Saya lebih melihat sebagai tahun untuk kemungkinan-kemungkinan baru. Saya belajar dari The Art of Possibility. Sebuah buku kecil yang ditulis Rosamund Stone Zander dan Benjamin Zander. Saya tergerak menulis sebuah buku panduan dengan gaya mereka.

Buku ini mirip pengalaman pribadi menjadi motivator. Kadang, pekerjaan saya tak melulu menjadi fasilitator atau trainer. Lebih sering orang meminta bagaimana saya membantu mereka menemukan mimpi mereka.



Tempo hari, saya pijat refleksi di Bandara Surabaya sambil menunggu penerbangan. Saya sendiri ingin meringankan flu yang berkepanjangan. Dan saya pasien pertama, seorang pemijat refleksi. Ia masih muda dan banyak bersyukur kepada tuhannya.

Saya sedikit tergelitik ketika ia mulai menyerahkan hidupnya pada takdir. Ia percaya setiap hari ada rejekinya. Ia tak bisa meminta lebih atau kurang kepada nasibnya.

Akhirnya saya, mulai mengajak dialog. Saya ingin berbagi kepadanya, bukankah alam semesta itu seperti katalog yang siap memberikanmu apa yang kau minta. Saya bercerita kepadanya sebenarnya tak ada batas untuk meminta sesuatu kepada alam dan pencipta Alam. Pertanyaan, seberapa besar yang kamu minta? Bila sedikit alam akan memberikan sedikit, bila banyak alam pun akan memberikan banyak. Yang penting, tambah saya, kita tak meminta berlebihan.

Ia mencoba melawan keyakinannya. Saya hanya bilang kamu ingin apa? Apakah hanya akan menjadi pemijat refleksi sampai tua disini? Atau, kamu ingin menjadi seseorang yang lain. Itulah the art of possibility.

Saya cerita bagaimana seorang pemijat di Jari Menari, sebauh tempat pijat yang terbaik di Bali, sekarang menjadi pemijat terkenal di Amerika Serikat. Saya percaya pemijat ini memang memiliki impian setinggi itu. Bukan sekedar ingin menjadi pemijat biasa. Bagaimana dengan kamu, tanya saya.

Selesai sudah ia memijat saya dan saya bergegas ke gate penerbangan. Saya bilang kepadanya terima kasih dan teruslah menjadi pemijat yang hebat. Suatu saat bila bertemu kembali, saya ingin kamu cerita kisah suksesmu. Ia tampak berseri-seri dan berterima kasih, memperoleh new insight pagi ini.

Dengan cara ini, saya telah memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi hidupnya. Semangat inilah yang hidup dan menyala dalam menyambut tahun baru, 2009.

Read more!